Senin, 03 Desember 2012

Macam-macam Majas

Majas perbandingan/pertautan :
1.      Alegori: Menyatakan dengan cara lain, melalui kiasan atau penggambaran.
Contoh: Perjalanan hidup manusia seperti sungai yang mengalir menyusuri tebing-tebing, yang kadang-kadang sulit ditebak kedalamannya, yang rela menerima segala sampah, dan yang pada akhirnya berhenti ketika bertemu dengan laut. Suami sebagai nahkoda, Istri sebagai juru mudi.
2.      Alusio: Pemakaian ungkapan yang tidak diselesaikan karena sudah dikenal.
Contoh: Sudah dua hari ia tidak terlihat batang hidungnya.
3.      Simile: Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan penghubung, seperti layaknya, bagaikan, " umpama", "ibarat","bak", bagai".
contoh: Kau umpama air aku bagai minyaknya, bagaikan Qais dan Laila yang dimabuk cinta berkorban apa saja.
4.      Metafora: Gaya Bahasa yang membandingkan suatu benda dengan benda lain karena mempunyai sifat yang sama atau hampir sama.
contoh: Cuaca mendung karena sang raja siang enggan menampakkan diri.
5.      Antropomorfisme: Metafora yang menggunakan kata atau bentuk lain yang berhubungan dengan manusia untuk hal yang bukan manusia. Contoh : mulut gua itu sangat sempit.
6.      Sinestesia: Majas yang berupa suatu ungkapan rasa dari suatu indra yang dicurahkan lewat ungkapan rasa indra lainnya. Contoh : alangkah sedapnya suara nyanyian gadis itu.
7.      Antonomasia: Penggunaan sifat sebagai nama diri atau nama diri lain sebagai nama jenis. Contoh: Yang Mulia tak dapat menghadiri pertemuan ini. Contoh : Si pincang, Si jangkung , Si kribo , Si boneng.
8.      Aptronim: Pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan orang. Contoh : karena pekerjaannya sebagai penjual siomay Buyung mendapat julukan Buyung Siomay.
9.      Metonimia: Pengungkapan berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek, ciri khas, atau atribut.Contoh: Karena sering menghisap jarum, dia terserang penyakit paru-paru.(Rokok merek Djarum).
10. Hipokorisme: Penggunaan nama timangan atau kata yang dipakai untuk menunjukkan hubungan karib. Contoh: Si Ujang sangat suka memancing.
11. Litotes: Ungkapan berupa penurunan kualitas suatu fakta dengan tujuan merendahkan diri.
Contoh: Terimalah kado yang tidak berharga ini sebagai tanda terima kasihku. Mampirlah ke gubuk saya ( Padahal rumahnya besar dan mewah ).
12. Hiperbola: Pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akalah mencapai langit.
Contoh: Gedung-gedung perkantoran di kota-kota besar tel, Ibu terkejut setengah mati, ketika mendengar anaknya kecelakaan.
13. Personifikasi: Pengungkapan dengan menggunakan perilaku manusia yang diberikan kepada sesuatu yang bukan manusia.
Contoh: Hembusan angin di tepi pantai membelai rambutku. Awan menari – nari di angkasa, baru saja berjalan 8 km mobilnya sudah batuk – batuk.         
14. Depersonifikasi: Pengungkapan dengan tidak menjadikan benda-benda mati atau tidak bernyawa. Contoh: jika kau bunga, maka aku tangkainya.
15. Pars pro toto: Pengungkapan sebagian dari objek untuk menunjukkan keseluruhan objek.
contoh:Sejak kemarin dia tidak kelihatan batang hidungnya.
16. Totum pro parte: Pengungkapan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian.
contoh:Indonesia bertanding volly melawan Thailand.
17. Eufimisme: Pengungkapan kata-kata yang dipandang tabu atau dirasa kasar dengan kata-kata lain yang lebih pantas atau dianggap halus.
contoh:Di mana saya bisa menemukan kamar kecilnya? Contoh : Para tunakarya itu perlu diperhatikan.
18. Disfemisme: Pengungkapan pernyataan tabu atau yang dirasa kurang pantas sebagaimana adanya. Contoh : perbuatannya yang tidak sononoh telah merusak kehormatan gadis itu.
19. Fabel: Menyatakan perilaku binatang sebagai manusia yang dapat berpikir dan bertutur kata.
contoh:Perilakunya seperti ular yang menggeliat.
20. Parabel: Ungkapan pelajaran atau nilai tetapi dikiaskan atau disamarkan dalam cerita.contoh : kancil mencuri timun.
21. Perifrasa: Ungkapan yang panjang sebagai pengganti ungkapan yang lebih pendek. Contoh: Pulau Dewata adalah empat wisata yang paling indah.
22. Eponim: Menjadikan nama orang sebagai tempat atau pranata.
contoh:Kita bermain ke rumah Ina.
23. Simbolik: Melukiskan sesuatu dengan menggunakan simbol atau lambang untuk menyatakan maksud. Contoh : garuda didadanya selalu mengobarkan semangat pantang menyerah.
24. Asosiasi/perumpamaan: perbandingan terhadap dua hal yang berbeda, namun dinyatakan sama.
Contoh: Masalahnya rumit, susah mencari jalan keluarnya seperti benang kusut. harimau pulang kelaparan, seperti menyulam di kain yang lapuk.
25. Majas tropen : adalah majas yang berisi kiasan digunakan untuk mengganti sebuah pengertian dengan kata – kata kias. Contoh: Presiden SBY akan terbang meunuju Amerika.
26. Antisipasi/prolepsi: adalah gaya bahasa yang dalam pernyataanya menggunakan frase pendahuluan yang isinya sebenarnya masih akan dikerjakan atau akan terjadi. Contoh: aku melonjak kegirangan karena aku mendapatkan piala kemenangan.

27. Ironi: Sindiran dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan mengatakan kebalikan dari fakta tersebut.
Contoh: Suaramu merdu seperti kaset kusut. Bagus sekali tulisanmu, sampai – sampai tidak bisa dibaca.
28. Sarkasme: Sindiran langsung dan kasar. Contoh : mampus pun aku tak peduli, diberi nasehat aku tak peduli, diberi masuk ketelinga.
29. Sinisme: Ungkapan yang bersifat mencemooh pikiran atau ide bahwa kebaikan terdapat pada manusia (lebih kasar dari ironi).
Contoh: Kamu kan sudah pintar ? Mengapa harus bertanya kepadaku ? Perilakumu membuatku kesal.
30. Satire: Ungkapan yang menggunakan sarkasme, ironi, atau parodi, untuk mengecam atau menertawakan gagasan, kebiasaan, dll. Contoh: ya ampun ! soal mudah kayak gini, kau tak bisa mengerjakannya.
31. Innuendo: Sindiran yang bersifat mengecilkan fakta sesungguhnya. Contoh: ia menjadi kaya raya karena mengadakan kemoersialisasi jabatannya.

Majas penegasan/pengulangan :
32. Apofasis: Penegasan dengan cara seolah-olah menyangkal yang ditegaskan. Contoh: saya tidak mau mengungkapkan dalam forum ini bahwa saudara telah menggelapkan ratusan juta rupiah uang negara.
33. Pleonasme: Menambahkan keterangan pada pernyataan yang sudah jelas atau menambahkan keterangan yang sebenarnya tidak diperlukan.
Contoh: Saya naik tangga ke atas.
34. Repetisi: Perulangan kata, frasa, dan klausa yang sama dalam suatu kalimat. Contoh : Selamat tinggal pacarku, selamat tinggal kekasihku
35. Pararima: Pengulangan konsonan awal dan akhir dalam kata atau bagian kata yang berlainan. Contoh : bolak – balik , lika – liku, kocar – kacir.
36. Aliterasi: Repetisi konsonan pada awal kata secara berurutan. Contoh : keras – keras kena air lembut juga.
37. Paralelisme: Pengungkapan dengan menggunakan kata, frasa, atau klausa yang sejajar. Contoh : jika kamu minta , aku akan datang.
38. Tautologi: Pengulangan kata dengan menggunakan sinonimnya. Contoh: kejadian itu tidak saya inginkan dan tidak saya harapkan.
39. Sigmatisme: Pengulangan bunyi "s" untuk efek tertentu. Contoh : kutulis surat ini kala hujan gerimis.
40. Antanaklasis: Menggunakan perulangan kata yang sama, tetapi dengan makna yang berlainan. Contoh: ibu membawa buah tangan, yaitu buah apel merah.
41. Klimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang sederhana/kurang penting meningkat kepada hal yang kompleks/lebih penting. Contoh: kesengsaraan membuahkan kesabaran, kesabaran pengalaman dan pengalaman harapan.
42. Antiklimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang kompleks/lebih penting menurun kepada hal yang sederhana/kurang penting. Contoh: ketua pengadilan negeri itu adalah orang yang kaya, pendiam, dan tidak terkenal namanya.
43. Inversi/anastrof: Menyebutkan terlebih dahulu predikat dalam suatu kalimat sebelum subjeknya. Contoh : Aku dan dia telah bertemu > Telah bertemu, aku dan dia
44. Retoris: Ungkapan pertanyaan yang jawabannya telah terkandung di dalam pertanyaan tersebut. Contoh: sipakah yang tidak ingin hidup.
45. Elipsis: Penghilangan satu atau beberapa unsur kalimat, yang dalam susunan normal unsur tersebut seharusnya ada. Contoh : Kami ke rumah nenek ( penghilangan predikat pergi).
46. Koreksio/epanortosis: Ungkapan dengan menyebutkan hal-hal yang dianggap keliru atau kurang tepat, kemudian disebutkan maksud yang sesungguhnya. Contoh: silakan pulang saudara – saudara, eh maaf, silakan makan.
47. Polisindenton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana, dihubungkan dengan kata penghubung. Contoh: Ia benar – benar lupa dengan rumah dan ladangnya, istri dan anaknya, hak dan kewajibannya.
48. Asindeton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana tanpa kata penghubung. Contoh: dan kesesakan kesedihan, kesakitan, seribu derita detik – detik penghabisan orang melepaskan nyawa.
49. Interupsi: Ungkapan berupa penyisipan keterangan tambahan di antara unsur-unsur kalimat. Contoh: tiba – tiba ia –suami itu disebut oleh perempuan lain.
50. Ekskalamasio: Ungkapan dengan menggunakan kata-kata seru. Contoh: wah, biar kupeluk dengan tangan menggigil.
51. Enumerasio: Ungkapan penegasan berupa penguraian bagian demi bagian suatu keseluruhan. Contoh: laut tenang. Di atas permadani biru itu tampak satu satunya perahu nelayan meluncur perlahan – perlahan. Angin berhembus sepoi – sepoi. Bulan bersinar dengan terangnya. Disana – sini bintang – bintang gemerlapan. Semuanya berpadu membentuk suatu lukisan yang harmonis.
52. Preterito: Ungkapan penegasan dengan cara menyembunyikan maksud yang sebenarnya. Contoh : saya tidak akan membuka rahasianya bahwa ia menjadi preman pasar.
53. Alonim: Penggunaan varian dari nama untuk menegaskan. Contoh : Dok, pasien sudah selesai di trepanasi.( Dok adalah varien dadi Dokter).
54. Kolokasi: Asosiasi tetap antara suatu kata dengan kata lain yang berdampingan dalam kalimat.
55. Silepsis: Penggunaan satu kata yang mempunyai lebih dari satu makna dan yang berfungsi dalam lebih dari satu konstruksi sintaksis. Contoh: Ia sudah kehilangan topi dan semangatnya. Seharusnya = Ia sudah kehilangan topi dan kehilangan semangatnya.
56. Zeugma: Silepsi dengan menggunakan kata yang tidak logis dan tidak gramatis untuk konstruksi sintaksis yang kedua, sehingga menjadi kalimat yang rancu. Contoh: kami sudah mendengar berita itu dari radio dan surat kabar.
57. Majas Kiasmus : adalah Majas yang berisi perulangan dan sekaligus mengandung inverse. Contoh : Mereka yang kaya merasa miskin, dan yang miskin merasa kaya.
58. Majas anafora: adalah majas pengulangan kata atau kelompok kata pada awal kalimat atau klausa secara berturut – turut. Contoh : Ada kemauan , ada jalan.
59. Asonansi: adalah majas sejenis gaya mahasa refetisi yang berjudul perulangan vokal, pada suatu kata atau beberapa kata. Biasanya dipergunakan dalam puisi untuk mendapatkan efek penekanan. Contoh: .mati api didalam hati.
60. Epizeukis : adalah gaya bahasa perulangan yang bersifat langsung. Maksudnya kata yang dipentingkan diulang beberapa kali berturut – turut. Contoh : ingat kami harus bertobat, bertobat, sekali lagi bertobat.
61. Epistrofa(efifora) : adalah gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan kata pada akhir baris atau kalimat berurutan. Contoh: Ibumu sedang memasak di dapur ketika kau tidur.
62. Simploke: adalah gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan awal dan akhir beberapa baris ( kalimat secara berturut -  turut). Contoh: Ada selusin gelas ditumpuk keatas tak pecah.
63. Mesodiplosis: adalah gaya bahasa repetisi yang berupa pengulangan kata atau frase ditengah – tengah baris atau kalimat secara berturut – turut. Contoh : pendidik harus meningkatkan kecerdasan bangsa.
64. Epanalepis: adalah gaya bahasa repetisi yang berupa pengulangan kata pertama pada akhir baris, klausa, atau kalimat. Contoh :saya akan berusaha meraih cita – cita saya.
65. Anadiplosis : adalah gaya bahasa repetisi yang kata atau frase terakhir dari suatu kalimat atau klausa atau kalimat berikutnya. Contoh : dalam raga ada darah, dalam darah ada tenaga, dalam tenaga ada daya, dalam daya ada segalanya.

66. Paradoks: Pengungkapan dengan menyatakan dua hal yang seolah-olah bertentangan, namun sebenarnya keduanya benar. Contoh : hatinya sunyi tinggal dikota Jakarta yang ramai, hari yang cerah untuk jiwa yang sepi.
67. Oksimoron: adalah Majas yang antarbagiannya menyatakan sesuatu yang bertentangan.
Contoh : Cinta membuatnya bahagia, tetapi juga membuatnya menangis.
68. Antitesis: Pengungkapan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan arti satu dengan yang lainnya. Contoh : Cinta membuatnya bahagia, tetapi juga membuatnya menangis.
69. Kontradiksi interminus: Pernyataan yang bersifat menyangkal yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya. Contoh: semua sudah siap kecuali Ani.
70. Anakronisme: Ungkapan yang mengandung ketidaksesuaian dengan antara peristiwa dengan waktunya. Contoh: dalam tulisan Cesar, Shakespeare menuliskan jam berbunyi tiga kali ( saat itu jam belum ada).
71. Okupasi : adalah majas yang menyatakan pertentangan dengan hal tertentu, tetapi akhirnya diberi penjelasan penyelesaian. Contoh : pil koplo dapat merusak moral bangsa. Tidak hanya anak mudah, orang dewasa pun bisa terkena bahaya ini. Akhirnya mereka sadar bahwa semua itu tak ada manfaatnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar